PALI, JON.com – Hamparan sawah di Kelurahan Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menjadi saksi perjalanan Sutarni, seorang petani perempuan yang perlahan mengubah keterpurukan menjadi kemandirian.
Bertahun-tahun, Sutarni bergelut dengan persoalan yang sama: hasil panen tidak menentu, serangan hama, tingginya biaya produksi, dan ketergantungan terhadap pupuk kimia. Kondisi itu membuat kehidupan keluarganya pernah berada dalam situasi sulit.
Sekitar satu dekade lalu, Sutarni bahkan harus berjuang keras untuk sekadar mempertahankan sawah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tanaman padi di lahannya pernah rusak akibat serangan jamur yang muncul setelah penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
Belum pulih sepenuhnya, persoalan lain datang. Serangan hama kembali menyebabkan hasil panen merosot.
Dalam kondisi tersebut, Sutarni terpaksa berutang ke toko untuk memperoleh pupuk. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga ikut tertekan. Tagihan listrik dan biaya pendidikan anak sempat tertunggak hingga enam bulan.
“Dulu hasil panen tak menentu. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja sering tidak cukup,” ujar Sutarni.
Ketika Bertani Hanya Menghasilkan Untung Tipis
Menurut Sutarni, menjadi petani di Talang Ubi Utara bukan pekerjaan mudah. Bahkan ketika tidak terjadi serangan hama, keuntungan yang diperoleh petani masih relatif tipis karena tingginya biaya produksi.
Pada masa itu, hasil panen rata-rata berkisar 2,5 hingga 3 ton per hektare, dengan harga jual sekitar Rp10 ribu per kilogram. Sementara biaya yang harus dikeluarkan petani cukup besar, mulai dari bibit hingga pupuk.
Pendapatan rata-rata petani kala itu hanya sekitar Rp2,5 juta per bulan. Harga pupuk nonorganik yang terus meningkat semakin menekan pendapatan dan kebutuhan keluarga.
Situasi tersebut membuat Sutarni mulai berpikir untuk mencari cara lain. Ia kemudian melihat pertanian organik sebagai salah satu alternatif.
Namun, perubahan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengetahuan tentang pertanian organik masih terbatas, sementara mengubah pola pertanian yang telah bertahun-tahun bergantung pada pupuk kimia membutuhkan proses, pendampingan, dan biaya.
Harapan Datang pada 2021
Titik balik mulai dirasakan sekitar 2021. Saat itu, Pertamina EP (PEP) Pendopo Field, yang merupakan bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, menjalankan program Pusat Jaringan Pertanian Organik Terintegrasi dan Sustainability (PUJANGGA).
Sutarni bersama petani yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosela dan Kelompok Tani Rejomulyo ikut ambil bagian dalam program tersebut.
Melalui program PUJANGGA, para petani mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk memulihkan lahan pertanian dengan memanfaatkan bahan-bahan organik. Jerami dan kotoran hewan dimanfaatkan sebagai bahan pupuk.
Para petani juga mendapat pengetahuan mengenai teknik pembibitan dan penanaman yang lebih baik. Untuk menghadapi serangan hama, mereka belajar memanfaatkan bahan-bahan alami, antara lain asap batok kelapa serta larutan berbahan susu, telur, dan madu.
Dukungan PEP Pendopo Field tidak berhenti pada pelatihan. Perusahaan juga menyediakan sekretariat bagi kelompok petani untuk menjalankan berbagai aktivitas serta memberikan bantuan peralatan pertanian guna mendukung penerapan pertanian organik di Talang Ubi Utara.
Produktivitas Naik, Pendapatan Petani Ikut Tumbuh
Perubahan kemudian mulai terlihat pada lahan pertanian sekitar 15 hektare yang dikelola Sutarni bersama petani lainnya.
Ketergantungan terhadap input kimia yang sebelumnya menjadi salah satu komponen biaya besar mulai ditekan. Berkurangnya biaya produksi membuat margin pendapatan petani semakin terbuka.
Produktivitas padi juga meningkat. Dari sebelumnya sekitar 2,5 ton per hektare, hasil panen disebut meningkat menjadi sekitar 4,5 ton per hektare, atau naik sekitar 80 persen, dengan masa tanam sekitar tiga hingga empat bulan.
Kualitas beras pun semakin baik. Beras yang dihasilkan dapat dipasarkan dengan harga hingga sekitar Rp20 ribu per kilogram.
Dampaknya terasa pada pendapatan petani. Jika sebelumnya rata-rata pendapatan berada di kisaran Rp2,5 juta per bulan, kini meningkat hingga sekitar Rp8 juta per bulan.
Bagi Sutarni, peningkatan tersebut bukan sekadar angka. Perubahan itu membuat keluarganya memiliki ruang yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia tidak lagi harus berutang ke toko untuk mendapatkan pupuk. Tagihan listrik dan biaya pendidikan anak yang dahulu sempat tertunggak kini dapat dipenuhi dengan lebih baik.
“Sekarang produksi beras meningkat. Dengan pertanian organik, kami para petani bisa hidup lebih layak,” kata Sutarni.
Dari Sawah, Sutarni Menggerakkan Perempuan
Keberhasilan mengembangkan pertanian organik tidak membuat Sutarni berhenti pada peningkatan kesejahteraan keluarganya sendiri.
Ia justru memperluas manfaat tersebut kepada perempuan lain di lingkungannya.
Pada 2024, Sutarni mendirikan KWT Rosela. Kelompok ini tidak hanya berfokus pada kegiatan pertanian, tetapi juga menjadi ruang belajar dan pemberdayaan bagi perempuan.
Kini, KWT Rosela memiliki sekitar 20 anggota yang mengelola lahan seluas kurang lebih setengah hektare di Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) Pendopo Field.
Di lahan tersebut, para anggota membudidayakan berbagai tanaman obat keluarga (TOGA), seperti jahe, kunyit, kencur, bawang Dayak, pegagan, kumis kucing, sambiloto, serta berbagai jenis sayuran.
Tidak berhenti pada budidaya, tanaman tersebut kemudian diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Di antaranya Teh Rosela, bandrek, peyek, dan stik ubi.
Dari penjualan produk-produk tersebut, KWT Rosela mampu memperoleh pendapatan kelompok sekitar Rp2 juta per bulan.
Menanam Pengetahuan Sejak Dini
KWT Rosela juga bergerak dalam kegiatan sosial dan edukasi. Salah satunya memberikan pengenalan mengenai tanaman obat keluarga kepada anak-anak.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman di lingkungan sekitar sejak usia dini.
Bagi Sutarni, pemberdayaan perempuan bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan. Lebih dari itu, perempuan perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkarya, mengelola potensi lingkungan, dan membangun kemandirian secara bersama-sama.
Ketika Perempuan Menjadi Penggerak Perubahan
Perjalanan Sutarni dari petani yang pernah kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga hingga menjadi penggerak KWT Rosela menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari lahan yang sederhana.
Pertanian organik bukan hanya mengubah cara petani mengelola sawah. Bagi Sutarni dan kelompoknya, perubahan itu turut membuka jalan menuju efisiensi biaya, peningkatan produksi, peningkatan pendapatan, serta pemberdayaan perempuan.
Di Talang Ubi Utara, sawah tidak hanya menghasilkan beras. Dari lahan itu tumbuh sebuah cerita tentang kegigihan seorang perempuan yang memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.
Sutarni membuktikan bahwa ketika pengetahuan, pendampingan, kemauan, dan kerja bersama bertemu, pertanian dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri.
KWT kelompok juga bergerak di bidang Sosial dengan cara memberi Edukasi tentang Tanaman keluarga bagi anak-anak sekolah atau Masyarakat yang berkunjung ke lahan pertanian mereka.
Perjuangan Sutarni membuktikan kemandirian dan kesejahteraan petani bisa muncul dari inisiatif kelompok. Hal ini yang Mengispirasi Pendopo Field dan PHR Zona 4 untuk terus mendorong Masyarakat di sekitar wilayah Operasi untuk Tumbuh Bersamaobat PHR Zona 4 ingin memastikan Masyarakat disekitar wilayah operasi bisa tumbuh bersama seiring kehadir nya perusahaan.
Perjuangan Sutarni membuktikan kemandirian dan kesejahteraan petani bisa muncul dari inisiatif sederhana. Hal ini yang menginspirasi Pendopo Field dan PHR Zona 4 untuk terus mendorong masyarakat di sekitar.
“PHR Zona 4 ingin memastikan masyarakat di sekitar wilayah operasi bisa tumbuh bersama seiring kehadiran perusahaan. Ibu Sutarni menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat yang tepat dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ucap Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4, Iwan Ridwan Faizal, Rabu (10/6/2026).
Dari sawah, ia menanam pangan. Dari perjuangan, ia menumbuhkan harapan. Dan dari harapan itu, Sutarni mengajak perempuan lain untuk ikut tumbuh dan berdaya.
Tentang PHR Regional Sumatra Zona 4
PHR Regional Sumatra Zona 4, Subholding Upstream Pertamina, mengoperasikan tujuh wilayah kerja Pertamina EP (PEP) dan Pertamina Hulu Energi (PHE), yaitu PEP Prabumulih Field, PEP Limau Field, PEP Adera Field, PEP Pendopo Field, PEP Ramba Field, PHE Ogan Komering, dan PHE Raja Tempirai.
Wilayah-wilayah kerja itu tersebar di dua kota, Prabumulih dan Palembang, serta sembilan kabupaten, yaitu Muara Enim, PALI, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu.
PHR Regional Sumatra Zona 4 di bawah koordinasi serta pengawasan dari SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
Liputan: Enggi Marlisa
Editor: Joni Karbot, S.Th.I., C.IJ., C.PW., C.PR., C.PSE.






